Inilah aku, namaku Lucky walau namaku tak seberuntung namaku, aku seorang wanita biasa bahkan lebih rendah dari biasa, aku wanita yang looser......
aku bukan wanita yang jauh dari cantik, kaya , pintar, ataupun bahagia !
sejak kecil aku mempunyai sahabat ia bernama Happy
ia sebahagia namanya, dia adalah antonim dari diriku dia cantik, kaya, pintar ataupun bahagia ! seakan" dia tak pernah mengalami kesialan sepertiku...aku pun bingung mengapa Tuhan menjadikan kami sepasang sahabat bagai kaki dan tangan , jauh berbeda ! sejujurnya aku iri padanya........
hari demi hari kulewati bersamanya, kulihat dia mempunyai keluarga yang bahagia, sedangkan aku ? keluargaku serba kekurangan dan kami termasuk ayah dan ibuku sering bertengkar....
tidak tidak aku tak benci dengan Happy aku hanya Iri ......
ketika kami beranjak dewasa, aku jatuh cinta pada seorang laki - laki bernama Cinta aku benar" jatuh hati padanya
walau tak pernah kuungkapkan,dan yang mengetahui rahasia ini hanya Happy, Cinta dia adalah laki - laki yang kutemukan di bangku SMA, dia bagaikan sosok yang sempurna
Namun suatu ketika di depan mataku dan telinga ku Cinta ternyata mencintai Happy ! bukan aku Lucky !
Oh Tuhan rasanya sakiiiiiit, seperti bumi berhenti
inilah rasa puncak ku merasa looser knapa hidupku seperti ini? aku sekarang benar"benci dengan Happy ini tak adil Tuhan tak adil.......
aku mencoba bangkit, aku tak mau memikirkan ke looser an ku, kuputuskan aku pergi mengejar impian...waktu berjalan kutinggalkan masa lalu ku termasuk sahabatku Happy dan cintaku Cinta,
aku merasa lebih baik sekarang, pada suatu ketika aku menerima kabar,kabar mengejutkan sahabatku yang telah lama tak kutemui ternyata benar - benar tak kutemui lagi dia meninggal dunia ... ! Seketika rasa benciku padanya hilang aku benar" menyesal aku menyayanginya.....
speninggal kepergiannya aku juga menemukan rahasia besarnya lewat sebuah buku diary Happy...aku benar" kaget membuka isinya, ternyata selama ini ialah gadis pengidap penyakit kanker, ia tanggung penyakitnya itu sendiri dia tak menceritakannya padaku, ia berjuang hidup dengan sakitnya,di salah satu buku diary Happy tertulis
"kenapa ini terjadi padaku? aku ingin hidup ? aku iri pada semua orang, Lucky bagiku kamu seberuntung namamu kamu punya keluarga yang lengkap, walau kalian sering bertengkar namun tetap ada cinta di keluargamu, di keluarga ku bahkan tak ada pertengkaran karna sama sekali sudah tak ada rasa peduli, dan kamu tau aku lebih dulu mencintai Cinta dari dahulu, namun aku tak pernah menceritakannya pada siapapun ketika Cinta mengungkapkan cintanya padaku aku benar" merasa sakit Lucky! lebih dari apa yang kamu rasakan kami hrus menahannya demi kamu, aku tak mau membuatmu sakit tp knapa kmu sering menyesali hidupmu dan menyalahkanku maupun Tuhan ? aku ingin bilang padamu seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang ada pada hidupmu itulah yang membuatmu merasa bahagia dan punya segalanya Lucky !seketika itu aku menangis, Happy benar dalam keadaan apapun kita, kita akan merasa cantik, kaya , pintar maupun bahagia dengan bersyukur dan aku merasa aku seberuntung namaku :')
Mariah Gipty
aku bukan wanita yang jauh dari cantik, kaya , pintar, ataupun bahagia !
sejak kecil aku mempunyai sahabat ia bernama Happy
ia sebahagia namanya, dia adalah antonim dari diriku dia cantik, kaya, pintar ataupun bahagia ! seakan" dia tak pernah mengalami kesialan sepertiku...aku pun bingung mengapa Tuhan menjadikan kami sepasang sahabat bagai kaki dan tangan , jauh berbeda ! sejujurnya aku iri padanya........
hari demi hari kulewati bersamanya, kulihat dia mempunyai keluarga yang bahagia, sedangkan aku ? keluargaku serba kekurangan dan kami termasuk ayah dan ibuku sering bertengkar....
tidak tidak aku tak benci dengan Happy aku hanya Iri ......
ketika kami beranjak dewasa, aku jatuh cinta pada seorang laki - laki bernama Cinta aku benar" jatuh hati padanya
walau tak pernah kuungkapkan,dan yang mengetahui rahasia ini hanya Happy, Cinta dia adalah laki - laki yang kutemukan di bangku SMA, dia bagaikan sosok yang sempurna
Namun suatu ketika di depan mataku dan telinga ku Cinta ternyata mencintai Happy ! bukan aku Lucky !
Oh Tuhan rasanya sakiiiiiit, seperti bumi berhenti
inilah rasa puncak ku merasa looser knapa hidupku seperti ini? aku sekarang benar"benci dengan Happy ini tak adil Tuhan tak adil.......
aku mencoba bangkit, aku tak mau memikirkan ke looser an ku, kuputuskan aku pergi mengejar impian...waktu berjalan kutinggalkan masa lalu ku termasuk sahabatku Happy dan cintaku Cinta,
aku merasa lebih baik sekarang, pada suatu ketika aku menerima kabar,kabar mengejutkan sahabatku yang telah lama tak kutemui ternyata benar - benar tak kutemui lagi dia meninggal dunia ... ! Seketika rasa benciku padanya hilang aku benar" menyesal aku menyayanginya.....
speninggal kepergiannya aku juga menemukan rahasia besarnya lewat sebuah buku diary Happy...aku benar" kaget membuka isinya, ternyata selama ini ialah gadis pengidap penyakit kanker, ia tanggung penyakitnya itu sendiri dia tak menceritakannya padaku, ia berjuang hidup dengan sakitnya,di salah satu buku diary Happy tertulis
"kenapa ini terjadi padaku? aku ingin hidup ? aku iri pada semua orang, Lucky bagiku kamu seberuntung namamu kamu punya keluarga yang lengkap, walau kalian sering bertengkar namun tetap ada cinta di keluargamu, di keluarga ku bahkan tak ada pertengkaran karna sama sekali sudah tak ada rasa peduli, dan kamu tau aku lebih dulu mencintai Cinta dari dahulu, namun aku tak pernah menceritakannya pada siapapun ketika Cinta mengungkapkan cintanya padaku aku benar" merasa sakit Lucky! lebih dari apa yang kamu rasakan kami hrus menahannya demi kamu, aku tak mau membuatmu sakit tp knapa kmu sering menyesali hidupmu dan menyalahkanku maupun Tuhan ? aku ingin bilang padamu seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang ada pada hidupmu itulah yang membuatmu merasa bahagia dan punya segalanya Lucky !seketika itu aku menangis, Happy benar dalam keadaan apapun kita, kita akan merasa cantik, kaya , pintar maupun bahagia dengan bersyukur dan aku merasa aku seberuntung namaku :')
Mariah Gipty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar