Sabtu, 28 Desember 2013

BAPAKKU MATI DI BAWAH KAKI KORUPTOR

Siang itu di bawah terik panas matahari di suatu kota besar Indonesia,seorang laki- laki membawa tumpukan Koran terbitan terbaru di tangan kanannya, dan satu tangan kirinya menuntun sepeda reotnya , dia terlihat ingin sekali mengelap keringat di dahinya namun itu tak kunjung ia lakukan karena ia tahu jika itu ia lakukan maka salah satu diantara sepeda atau Koran-korannya akan terjatuh.
Laki – laki separuh baya itu Bapakku bapak tercinta ku , kami hidup serba pas – pas an, Ibukku telah meninggal 3 tahun yang lalu karena Demam Berdarah ia terlambat di rawat di rumah sakit atas keterbatasan biaya, Bapakku seorang penjual Koran keliling, sedangkan aku adalah anak laki – laki berumur 11 tahun yang masih duduk di bangku 5 SD, selain itu aku juga seorang penjual es lilin pada siang hari sepulang sekolah, aku relakan masa bermainku demi sekolah walaupun aku tahu uang hasil dari berjualan es lilin ku masih belum cukup untuk membantu meringankan beban orang tua.

Kala itu, aku tak berjualan es lilin karena orang yang biasa memasok es lilinku sakit, maka kuputuskan siang itu untuk membantu Bapakku menjual korannya. Dengan berjalan, kami menuntun sepeda sambil menjajakan koran namun entah apa baru 6 koran yang terjual hingga siang itu, sekitar jam 02.00 siang aku mulai kelaparan namun aku tak tega meminta nasi kepada Bapakku, aku tahu Bapakku sama sekali tidak mempunyai uang, sedangkan uang yang di pegang Bapakknya adalah uang milik si makelar Koran bukan miliknya, aku juga tahu bahkan dari kemarin malam Bapak belum makan , kurasa Bapak kehabisan uang hanya cukup untuk makanku dan membayar hutang, aku benar benar tahu sekarang ini dia sedang bingung, sedih dan kelaparan !
            Akhirnya kami istirahat di sebuah gedung tak terpakai, samar – samar kami mendengar suara mobil masuk gudang , terdengar mereka berbicara serius
            “Ini kuambil sedikit dari bantuan social untuk rakyat sekitar 73 juta rupiah “ kata seorang laki – laki bersuara berat.
            “Terimakasih kakakku, apa kakak yakin ini cukup untuk kampanyeku ? “ kata laki – laki satunya
“Itu malah tersisa….ambillah” balas Laki – laki bersuara berat
“apa kamu yakin ini aman ? “ Tanya laki – laki satunya
Bapakku yang mendengar kejadian itu segera menghampiri  mereka
Dengan kaget dua laki – laki itu menyambut Bapakku, terdengar Bapakku menasihati mereka namun salah satu dari mereka malah menawari Uang yang sangat banyak untuk Bapakku, namun entah mengapa Bapakku menolaknya, di depan mata ku salah satu dari mereka malah meludahi wajah Bapakku lalu pergi begitu saja.
“Bapak , kamu kenapa tak marah pada laki – laki itu ? “
“ Aku tak bisa berbuat apa – apa nak “
“Dan kenapa ayah tadi menolak uang itu ayah ? kan kita benar – benar tak punya uang, aku lapar “ kataku sedikit keras dan kecewa tapi ayahku hanya menjawab “Nanti kamu akan tahu “
Lalu kami kembali melanjutkan menjual Koran, aku pun masih kecewa terhadap Bapakku, ada apa dengan Bapak? Mengapa ia menolak rezeki itu
Hari semakin sore , tiba – tiba kami di datangi seorang wanita berpakaian rapi memberikan 2 bungkus nasi kepada kami, tak tau kenapa rasa kecewa pada ayahku membuat aku tak nafsu untuk makan, walaupun Bapakku memaksaku untuk memakannya aku tetap tak bernafsu melahapnya walau sesuap. Akhirnya dengan lahapnya Bapakku melahap habis nasi miliknya, selang beberapa menit dia berkata padaku
“Aku tak menerima uang itu karena itu uang hasil curian nak, Allah tidak tidur kita menolak uang haram itu tapi Allah masih memberi rezeki lain bagi kita walaupun cuma sebungkus nasi kita harus bersyukur nak…” dia tersenyum aku tak tau maksud Bapak lalu kulihat di matanya setetes air mata keluar dari mata lelahnya.
“Nak, Bapak capek bapak mau istirahat dulu ya ” itulah kata kata terakhir Bapak kurang lebih ½ jam berlalu hari semakin sore mengapa Bapakku tak kunjung bangun, ku bangunkan lagi lagi dan lagi satu ketakutan tiba – tiba menghampiriku mengingatkan ku pada kematian ibuku 3 tahun yang lalu, kusadari ini bukan mimpi Bapak tak bernapas lagi dia telah tiada….aku menangis sejadinya tak peduli nasehat bapakku dulu yang bilang “Jadi anak lanang harus tegar ndak boleh nangis” aku benar – benar menangis kulihat Bapakku tak berdaya meninggal di bawah sebuah pamphlet besar yang menempel di tembok pamphlet itu bergambar seorang laki – laki calon legislatif, kuingat betul laki – laki yang ada di pamphlet itu adalah laki – laki yang telah meludahi Bapakku.
Itulah kenanganku 21 tahun yang lalu, hari dimana Bapakku meninggal, Bapakku mati di bawah kaki koruptor ! betapa bodonhya 5 tahun setelah peristiwa itu aku baru sadar laki – laki yang telah meludahi wajah Bapakku adalah seorang pejabat koruptor yang akhirnya tertangkap polisi, seorang pencuri yang lebih busuk dari pencuri.
Dia yang telah memberi kami nasi beracun itu agar kebusukannya tak di ketahui publik,dunia berputar dan putaranya cepat sekarang aku juga seorang pejabat aku berusaha untuk jujur, aku tak mau banyak orang mengalami hal seperti Bapakku.
Bapakku benar, dia lebih baik mati dalam keadaan jujur dari pada hidup dalam ke tidak jujuran.

                                                                                                            © Mariah Gipty

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata tapi kubuat lebih dramatik biar nikmat, alangkah tragisnya negeri ini ! dimana kejujuran kalah oleh kebohongan
*nulisnya sambil nangis, terharu
*Idenya sambil denger lagu Breakeven nya The Script







Tidak ada komentar:

Posting Komentar