Siang
itu di bawah terik panas matahari di suatu kota besar Indonesia,seorang laki-
laki membawa tumpukan Koran terbitan terbaru di tangan kanannya, dan satu
tangan kirinya menuntun sepeda reotnya , dia terlihat ingin sekali mengelap
keringat di dahinya namun itu tak kunjung ia lakukan karena ia tahu jika itu ia
lakukan maka salah satu diantara sepeda atau Koran-korannya akan terjatuh.
Laki
– laki separuh baya itu Bapakku bapak tercinta ku , kami hidup serba pas – pas an,
Ibukku telah meninggal 3 tahun yang lalu karena Demam Berdarah ia terlambat di
rawat di rumah sakit atas keterbatasan biaya, Bapakku seorang penjual Koran keliling,
sedangkan aku adalah anak laki – laki berumur 11 tahun yang masih duduk di
bangku 5 SD, selain itu aku juga seorang penjual es lilin pada siang hari
sepulang sekolah, aku relakan masa bermainku demi sekolah walaupun aku tahu
uang hasil dari berjualan es lilin ku masih belum cukup untuk membantu
meringankan beban orang tua.
Kala
itu, aku tak berjualan es lilin karena orang yang biasa memasok es lilinku
sakit, maka kuputuskan siang itu untuk membantu Bapakku menjual korannya. Dengan
berjalan, kami menuntun sepeda sambil menjajakan koran namun entah apa baru 6
koran yang terjual hingga siang itu, sekitar jam 02.00 siang aku mulai
kelaparan namun aku tak tega meminta nasi kepada Bapakku, aku tahu Bapakku sama
sekali tidak mempunyai uang, sedangkan uang yang di pegang Bapakknya adalah
uang milik si makelar Koran bukan miliknya, aku juga tahu bahkan dari kemarin
malam Bapak belum makan , kurasa Bapak kehabisan uang hanya cukup untuk makanku
dan membayar hutang, aku benar benar tahu sekarang ini dia sedang bingung,
sedih dan kelaparan !
Akhirnya
kami istirahat di sebuah gedung tak terpakai, samar – samar kami mendengar
suara mobil masuk gudang , terdengar mereka berbicara serius
“Ini
kuambil sedikit dari bantuan social untuk rakyat sekitar 73 juta rupiah “ kata
seorang laki – laki bersuara berat.
“Terimakasih
kakakku, apa kakak yakin ini cukup untuk kampanyeku ? “ kata laki – laki satunya
“Itu malah tersisa….ambillah”
balas Laki – laki bersuara berat
“apa kamu yakin ini aman
? “ Tanya laki – laki satunya
Bapakku yang mendengar
kejadian itu segera menghampiri mereka
Dengan kaget dua laki –
laki itu menyambut Bapakku, terdengar Bapakku menasihati mereka namun salah
satu dari mereka malah menawari Uang yang sangat banyak untuk Bapakku, namun entah
mengapa Bapakku menolaknya, di depan mata ku salah satu dari mereka malah meludahi
wajah Bapakku lalu pergi begitu saja.
“Bapak , kamu kenapa tak
marah pada laki – laki itu ? “
“ Aku tak bisa berbuat
apa – apa nak “
“Dan kenapa ayah tadi
menolak uang itu ayah ? kan kita benar – benar tak punya uang, aku lapar “
kataku sedikit keras dan kecewa tapi ayahku hanya menjawab “Nanti kamu akan
tahu “
Lalu kami kembali
melanjutkan menjual Koran, aku pun masih kecewa terhadap Bapakku, ada apa
dengan Bapak? Mengapa ia menolak rezeki itu
Hari semakin sore , tiba –
tiba kami di datangi seorang wanita berpakaian rapi memberikan 2 bungkus nasi
kepada kami, tak tau kenapa rasa kecewa pada ayahku membuat aku tak nafsu untuk
makan, walaupun Bapakku memaksaku untuk memakannya aku tetap tak bernafsu
melahapnya walau sesuap. Akhirnya dengan lahapnya Bapakku melahap habis nasi
miliknya, selang beberapa menit dia berkata padaku
“Aku tak menerima uang
itu karena itu uang hasil curian nak, Allah tidak tidur kita menolak uang haram
itu tapi Allah masih memberi rezeki lain bagi kita walaupun cuma sebungkus nasi
kita harus bersyukur nak…” dia tersenyum aku tak tau maksud Bapak lalu kulihat
di matanya setetes air mata keluar dari mata lelahnya.
“Nak, Bapak capek bapak
mau istirahat dulu ya ” itulah kata kata terakhir Bapak kurang lebih ½ jam
berlalu hari semakin sore mengapa Bapakku tak kunjung bangun, ku bangunkan lagi
lagi dan lagi satu ketakutan tiba – tiba menghampiriku mengingatkan ku pada
kematian ibuku 3 tahun yang lalu, kusadari ini bukan mimpi Bapak tak bernapas
lagi dia telah tiada….aku menangis sejadinya tak peduli nasehat bapakku dulu yang
bilang “Jadi anak lanang harus tegar ndak boleh nangis” aku benar – benar menangis
kulihat Bapakku tak berdaya meninggal di bawah sebuah pamphlet besar yang
menempel di tembok pamphlet itu bergambar seorang laki – laki calon legislatif,
kuingat betul laki – laki yang ada di pamphlet itu adalah laki – laki yang
telah meludahi Bapakku.
Itulah kenanganku 21
tahun yang lalu, hari dimana Bapakku meninggal, Bapakku mati di bawah kaki
koruptor ! betapa bodonhya 5 tahun setelah peristiwa itu aku baru sadar laki –
laki yang telah meludahi wajah Bapakku adalah seorang pejabat koruptor yang
akhirnya tertangkap polisi, seorang pencuri yang lebih busuk dari pencuri.
Dia yang telah memberi
kami nasi beracun itu agar kebusukannya tak di ketahui publik,dunia berputar
dan putaranya cepat sekarang aku juga seorang pejabat aku berusaha untuk jujur,
aku tak mau banyak orang mengalami hal seperti Bapakku.
Bapakku
benar, dia lebih baik mati dalam keadaan jujur dari pada hidup dalam ke tidak
jujuran.
©
Mariah Gipty
Kisah
ini terinspirasi dari kisah nyata tapi kubuat lebih dramatik biar nikmat,
alangkah tragisnya negeri ini ! dimana kejujuran kalah oleh kebohongan
*nulisnya sambil nangis, terharu
*Idenya
sambil denger lagu Breakeven nya The Script
Tidak ada komentar:
Posting Komentar