Narrator : Mariah Gipty. A
Pagi itu
disambut gembira oleh Nirmana, gadis mungil nan cantik yang masih duduk di
bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Pagi itu ia mendengar namanya menjadi juara kelas
waktu pembagian rapor namun ia sedikit gelisah, mengapa budhenya yang ia tunggu
sejak tadi untuk mengambil rapor Nirmana tak kunjung datang.
Beberapa
menit kemudian pucuk dicinta ulampun tiba, budhenya datang, sebuah senyum di
bibir merah Nirmana muncul tiba-tiba senyum itu lenyap ketika seseorang di
belakang Budhe datang mendekat, seseorang yang dicintai Nirmana sekaligus seseorang
yang membuat Nirmana malu di hadapan teman – temannya, orang itu adalah Ibu
Nirmana, seorang Janda cantik namun tak memiliki sepasang mata sehingga Ibu
Nirmana tak bisa melihat.
Nirmana
begitu malu, banyak teman – teman Nirmana yang mengejeknya, ada pula teman
Nirmana yang langsung pergi menjauh karena takut, teman – teman dekat Nirmana
pun bertanya,
“Nirma,
ini ibu kamu ya ?”
salah satu teman dekat Nirmana lainnya
bertanya
“katamu, ibumu
sakit keras ? apa kamu malau ya punya ibu ga bisa lihat ?” Tanya teman Nirmana
dengan polosnya.
Ibu Nirmana
hanya diam, Nirmana pun tak kuat menahan tangis, ia lalu berlari menjauh meninggalkan
tempat itu.
Matahari mulai tenggelam, Nirmana
masih duduk termenung di sebuah bangku taman, masih terngiang kejadian tadi
pagi, ia begitu malu mengapa ibunya harus datang di hadapan teman – temannya,
Nirmana begitu marah pada ibunya, mengapa ibunya tak bisa melihat, tidak
seperti ibu teman –teman Nirmana lainnya.
Waktu menunjukan pukul 8 malam, Ibu
Nirmana khawatir anak semata wayangnya tak kunjung pulang, ketika ibunya hendak
membuka pintu untuk mencari Nirmana, Nirmana pun datang lalu ibu bertanya
“Nirmana, kamu dari mana saja ? Ibu
khawatir nak…”
Namun tak ada
sepatah kata pun keluar dari Nirmana
“Nak, kamu
dengar kan.. apa kamu masih marah dengan kejadian tadi pagi ?
“Nirmana pun
malah semakin tak menggubris pertanyaan ibunya dan langsung masuk ke dalam
kamar dengan marah. Ibunya begitu sedih, anaknya pasti kecewa dengan keadaan
ibunya yang tak sempurna, setetes air mata jatuh di hati Ibu Nirmana.
Berhari – hari Nirmana tak kunjung
bersuara, ibunya hanya diam tak bisa menangis, hingga suatu malam Nirmana
bermimpi Ibunya memakai baju putih, ibunya sangat cantik mengenakan kebaya
putih dan ibunya dapat melihat, memandang Nirmana penuh kasih sayang, Nirmana
pun segera ingin memeluknya entah mengapa ibunya semakin menjauh pergi dan
lenyap di pelupuk mata.
Nirmanapun terbangun, disadari itu
hanyalah mimpi, waktu menunjukan pukul 01.30 pagi, ia langsung teringat ibunya,
ia menyesal menyakiti hati ibunya beranjaklah dia dari tempat tidurnya untuk
menghampiri ibunya dan meminta maaf atas perbuatannya.
“Ibu, Nirma minta maaf, Nirma sayang
sama ibu ?“ tak ada jawaban dari ibu… hening….apa ibu marah pikir Nirmana,
diguncangnya tubuh Ibu yang memang tidur dengan posisi membelakanginya. Ibunya
tak kunjung bergerak akhirnya Nirmana sadar ibunya telah tiada meninggalkannya
sebatang kara, ketakutan paling besar Nirmana benar – benar terjadi yaitu
menjadi yatim piatu. Nirmana menyesal ia menangis sejadinya.
Hingga pada pemakaman ibunya berakhir,
Nirmana masih terduduk menangis seorang diri di samping kuburan ibunya,
“tenanglah
Nirmana…kamu berhentilah menangis, kamu harus kuat”
Tiba – tiba
seorang wanita seumuran ibunya datang ia mengaku sebagai sahabat ibunya di masa
lalu. Ia bercerita sebuah rahasia tentang ibunya.
“Dahulu, ibumu adalah seorang wanita
dengan paras cantik, menawan dan mempunyai mata yang bersinar seperti yang kamu
miliki Nirmana…., dia akhirnya menikah dengan ayahmu, awalnya kehidupan mereka
sangat bahagia dan semakin sempurna dengan kehamilan ibumu, namun kebahagiaan
ibumu harus diuji, waktu kehamilan ibumu berumur 7 bulan 10 hari ayahmu
meninggal dunia karena kecelakaan kerja, ibumu sangatlah terpukul, sekuat
tenaga ia tidak bersedih agar kelahiran bayinya selamat”
“Tepat 9 bulan 10 hari kamu lahir nak,
kamu cantik, sehat namun satu yang kurang padamu…kamu tak mempunyai sepasang
mata…karena ibumu sangat sayang padamu ia rela mengorbankan sepasang matanya
untukmu Nirmana, sebenarnya ini rahasia ibumu ia tak mau membuatmu sedih namun
kebenaran memang harus diungkapkan”
Nirmana begitu kaget hatinya benar –
benar hancur, ia sangat menyesal seharusnya dirinya lah yang diejek, disakiti,
bahkan dirinya jugalah yang harusnya tak dapat melihat, bukan lah ibu yang
sangat menyayanginya. Namun semua telah terlambat bahkan dia belum sempat
meminta maaf pada Ibunya. Yang dapat ia lakukan sekarang dan di kemudian hari
adalah menjadi anak yang lebih baik dan mendoakan Bapak Ibunya.
Cerpen yang bagus dan cukup menghibur menurut saya.
BalasHapusthanks a lot :)
Hapus