Bulan
terang menyinari pekatnya bumi, namun sayangnya tak ada bintang yang menemani bulan. Hembusan angin yang
dingin menyapa lembut dedaunan, manusia terlelap terlupa dengan dunia, menari –
nari diatas bunga tidur mereka masing – masing. Begitu sunyi, hanya sesekali gonggongan
anjing yang ikut andil memberi kesan seram pada malam itu, ataupun sesekali
suara tangisan seorang wanita yang berasal dari pohon asam memberi kesempurnaan
mencekamnya arti sebuah malam.
Di sebuah desa terdapatlah bukit
kecil yang ditumbuhi sebatang pohon asam yang besar. Pohon itu sangatlah besar
dan rindang dengan rumput dan alang – alang tumbuh di sekitarnya . Namun tak
ada orang yang berani mendekati pohon tersebut karena banyak orang pada malam
hari kerap kali mendengar wanita menangis di sekitar pohon tersebut dan ketika
dicari sumber suara tangisan tersebut, tak ada seorangpun yang berada disana.
Hingga suatu saat warga semakin
resah akan tangisan wanita tersebut, beriniastiflah warga untuk menebang pohon
itu. Namun anehnya, ketika pohon itu hendak ditebang selalu saja ada halangan
untuk benar – benar menebangnya, seperti badai lebat datang seketika hingga
warga tak jadi menebangnya, batang pohon yang tiba – tiba mengeras, kapak pun
tak cukup kuat untuk menebangnya, atau malah pernah suatu kali penebang baru
akan menyentuh pohon, dialah yang jatuh tertimpa batang pohon yang misterius
tumbang dengan sendirinya. Berbagai cara pun telah dilakukan namun selalu gagal
hingga warga menyerah, takut jika akan terjadi musibah selanjutnya.
Pada suatu ketika datanglah seorang
laki – laki tua yang tak mempunyai tangan kanan mendatangi bukit kecil dimana
pohon asam itu tumbuh. Laki – laki bau tanah itu sangatlah kumal, kurus, bau
dan tak mengucap sepatah katapun setidaknya untuk menggumam atau mengutuk
dirinya sendiri. Berhari – hari dia beristirahat disana tak ada warga yang
peduli dengan laki – laki itu mereka berpikir laki – laki itu hanyalah orang
gila. Suatu ketika seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahun datang,
membawakan makanan untuk laki – laki itu, ia kasihan pada laki – laki itu.
Gadis kecil itu sama sekali tidak takut jika harus mendekati laki – laki tua
aneh itu, ataupun mendekati Pohon Asam yang dikenal berhantu tersebut.
Gadis kecil itu mendapati lelaki tua
itu sedang menangis, gadis itu pun memberanikan diri untuk bertanya.
“ Kakek, kek ... permisi saya Melati
kek, Melati lihat kakek disini tak pernah makan, saya membawakan ini untuk
kakek” kata gadis kecil itu dengan terbata – bata sambil menyerahkan dua
bungkus nasi pada laki – laki tua tersebut. Laki – laki itu pun menatap gadis
kecil itu ia hanya diam kemudian berhenti menangis dan tersenyum kecut pada
gadis kecil itu.
“Tidak nak..kakek tidak lapar, kamu
saja yang makan” jawab laki – laki tua itu dengan suara parau.
“Kakek tidak lapar ?” tanya gadis
kecil itu lagi
“ Tidak nak, kakek tidak akan pernah
merasakan lapar lagi, kakek hanya bisa merasakan apa itu kesedihan dan kakek
selalu ingin mati, namun Tuhan tak kunjung mengabulkan permohonan kakek”
“Kenapa kek? Kakek tidak boleh berkata
seperti itu” jawab gadis kecil itu.
Kakek
itupun malah memandang pohon asam di dekatnya menatapnya lekat hingga ia
menceritakan sebuah kisah pada gadis kecil itu.
Puluhan tahun yang lalu terdapat
sebuah desa kecil, hiduplah gadis kecil berumur sekitar 8 tahun yang selalu
bersedih karena ia tak mempunyai teman, bahkan orang tak mau melihat wajahnya
yang sangat buruk rupa kecuali orangtuanya sendiri. Gadis kecil itu bernama
Laras, ia sangat sedih yang dilakukannya hanyalah mengurung diri di rumah atau
setidaknya bermain sendiri di sebuah bukit yang ditumbuhi pohon asam.
Laras pun beranjak dewasa, ia tetap
tunbuh menjadi wanita buruk rupa, semula ia sudah terbiasa dengan keadaanya
hingga ia bertemu seorang saudagar muda yang tampan dari desa sebelah pindah
rumah menetap di desanya. Laras jatuh cinta padanya, namun ia harus sadar diri
karena banyak wanita cantik yang juga jatuh cinta pada pemuda yang diketahui
bernama Syamsul. Laras pun patah hati, ia selalu menangis di bawah pohon asam seperti
biasanya hingga ia pun berkata pada pohon asam
“Wahai pohon asam, pernahkah kau jatuh cinta? Jatuh cinta
itu sakit jika yang mengalami adalah seorang wanita buruk rupa sepertiku”
setelah berbicara seperti itu Laras pun tertidur di bawah pohon asam ia
bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik, wanita cantik itu memberinya
sebuah biji asam. Terbangunlah Laras ketika sebuah biji asam jatuh mengenai
kepalanya ia pun mempercayai mimpinya barusan dilahapnya biji asam tersebut.
Laras pun pulang ke rumah, terheran – heran ketika ia
berjalan pulang menuju rumah banyak pria di desanya yang memandangnya lekat,
menggodanya bahkan ketika ia bertemu Syamsul, dambaan hatinya Syamsul mengajaknya berkenalan dan mengatakan
bahwa Laras adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui.
Sesampainya di rumah Laras bercermin, orang tuanya bahkan
dirinya sendiri kaget bukan kepalang melihat wajah Laras yang berubah menjadi
wanita yang cantik layaknya dewi yang jatuh dari kahyangan. Laras sangat
bahagia, ia pun berlari kembali menuju pohon pohon asam, ia berterima kasih
pada pohon asam itu serta berterima kasih yang telah menemani hari – hari Laras
walaupun pohon itu tak pernah sekalipun berbicara. Laras pun berjanji akan
selalu meluangkan waktunya disana dan membalas kebaikan pohon asam hingga ia
mati. Sebelum Laras pergi, Laras sempat bersenandung pada pohon asam “Betapa bahagia daku, baru kali ini
kutemukan pohon asam yang manis....”
Laras yang cantik pun menjadi kembang desa, ia memilih
Syamsul untuk menjadi pendamping
hidupnya. Menikahlah mereka hingga dikaruniai dua anak perempuan yang sangat
cantik seperti Ibunya namun dua anak perempuan Laras sangatlah sombong. Pada
awal pernikahan Laras masih sering berkunjung ke pohon asam namun seiring
berjalannya waktu, dengan kebahagiaan yang didapatnya dengan suaminya yang tampan dan baik serta
dua anak perempuan yang membuatnya bangga Laras pun semakin jarang berkunjung ke pohon asam itu, lama – kelamaan
ia tak pernah kesana bahkan Laras lama – kelamaan lupa bahwa ia pernah mengenal
pohon asam.
Pada suatu hari, Keluarga Syamsul yang kaya itupun berencana
membangun rumah besar di bukit pohon asam, ia percaya pada perkataan Almarhum
kakeknya bahwa bukit itu amatlah subur. Syamsul pun berencana menebang pohon
asam besar tersebut karena pohon asam itu sangat mengganggu baginya untuk
mendirikan rumah besar dan membuka lahan
bertanam disana.
Malam sebelum Syamsul menebang pohon itu, Laras bermimpi
berdiri di dekat pohon asam, pohon asam itu berubah menjadi wanita cantik yang tidak asing baginya,
ia menangis berkata pada Laras untuk menolongnya, mencegah suaminya menebangnya
kemudian Laras terbangun. Laras pun takut dengan mimpinya, ia pun menceritakan
mimpi tersebut pada suaminya. Namun Syamsul tak percaya pada mimpi itu, ia
malah meyakinkan istrinya bahwa itu hanyalah bunga tidur semata, ia meyakinkan
istrinya bahwa dengan menebang pohon itu mereka bisa mendirikan rumah yang
besar, lagipula di bukit itu sangatlah subur tanahnya bisa ditumbuhi pohon
lainnya yang lebih bermanfaat dan dijual daripada sekedar pohon asam. Ia pun
juga berkata sebelum lahan subur itu direbut orang lain. Ia merayu istrinya
lagi mereka akan lebih kaya dengan memiliki lahan itu.
Laras pun terlena dengan perkataan suaminya, ia membayangkan
akan lebih kaya dari sebelumnya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa mimpinya
semalam hanya bunga tidurnya semata. Keesokan harinya Syamsul menebang pohon
asam tersebut ditemani istrinya Laras. Tumbanglah pohon asam tersebut hingga ke
akarnya, namun tiba – tiba hujang deras datang mengguyur. Laras tak dapat
menggerakan kakinya sama sekali, kakinya seperti mengakar di tanah, telapak
kakinya berubah menjadi akar, kakinya yang semampai berubah menjadi batang
pohon yang kokoh, jari – jemarinya berubah menjadi ranting – ranting yang kuat,
rambutnya yang panjang berubah menjadi daun yang lebat dan butir – butir air
matanya yang jatuh berubah menjadi biji – biji asam. Laras pun berubah menjadi
sebuah pohon, ia sangat menderita setiap hari ia menangis ia merasa bersalah
tak menepati janjinya pada pohon asam ia malah menjadi wanita yang tamak bagai
biji asam yang lupa pada keasaamannya sendiri.
Suaminya pun menyesal tak mempercayai mimpi istrinya
bertingkah tamak ingin memiliki segalanya, ia setiap hari menangis rindu kepada
istrinya. Ia turut bersalah atas peristiwa ini kemudian ia memotong tangan
kanannya sendiri untuk menebus kesalahannya tapi tetap saja itu tak cukup untuk
menghilangkan penyesalannya. Dua anak perempuan Laras yang cantik berubah
menjadi buruk rupa, mereka mati bunuh diri tak tahan oleh olok – olokan warga
karena dahulu semasa menjadi cantik dua anak perempuan Laras sangatlah angkuh.
“Begitulah cerita mengapa pohon asam itu setiap hari
menangis nak, dan kau pasti tahu kenapa kekek menangis”. Melati mendengar
cerita itu dengan seksama, ia kasihan pada pohon asam dan kakek tua itu yang
ternyata adalah suami Laras. Kakek Syamsul tak lama kemudian menemui ajal yang
diidam – idamkannya sedangkan Laras hanya bisa menangis setiap hari sebagai
sebatang pohon. Entah sampai kapan berakhir penderitaanya itulah harga yang
harus dibayar untuk sebuah janji.
Penulis :
Mariah
Gipty A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar