Sabtu, 25 April 2015

Tangisan Pohon Asam

Bulan terang menyinari pekatnya bumi, namun sayangnya tak ada bintang  yang menemani bulan. Hembusan angin yang dingin menyapa lembut dedaunan, manusia terlelap terlupa dengan dunia, menari – nari diatas bunga tidur mereka masing – masing. Begitu sunyi, hanya sesekali gonggongan anjing yang ikut andil memberi kesan seram pada malam itu, ataupun sesekali suara tangisan seorang wanita yang berasal dari pohon asam memberi kesempurnaan mencekamnya arti sebuah malam.
            Di sebuah desa terdapatlah bukit kecil yang ditumbuhi sebatang pohon asam yang besar. Pohon itu sangatlah besar dan rindang dengan rumput dan alang – alang tumbuh di sekitarnya . Namun tak ada orang yang berani mendekati pohon tersebut karena banyak orang pada malam hari kerap kali mendengar wanita menangis di sekitar pohon tersebut dan ketika dicari sumber suara tangisan tersebut, tak ada seorangpun yang berada disana.
            Hingga suatu saat warga semakin resah akan tangisan wanita tersebut, beriniastiflah warga untuk menebang pohon itu. Namun anehnya, ketika pohon itu hendak ditebang selalu saja ada halangan untuk benar – benar menebangnya, seperti badai lebat datang seketika hingga warga tak jadi menebangnya, batang pohon yang tiba – tiba mengeras, kapak pun tak cukup kuat untuk menebangnya, atau malah pernah suatu kali penebang baru akan menyentuh pohon, dialah yang jatuh tertimpa batang pohon yang misterius tumbang dengan sendirinya. Berbagai cara pun telah dilakukan namun selalu gagal hingga warga menyerah, takut jika akan terjadi musibah selanjutnya.

            Pada suatu ketika datanglah seorang laki – laki tua yang tak mempunyai tangan kanan mendatangi bukit kecil dimana pohon asam itu tumbuh. Laki – laki bau tanah itu sangatlah kumal, kurus, bau dan tak mengucap sepatah katapun setidaknya untuk menggumam atau mengutuk dirinya sendiri. Berhari – hari dia beristirahat disana tak ada warga yang peduli dengan laki – laki itu mereka berpikir laki – laki itu hanyalah orang gila. Suatu ketika seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahun datang, membawakan makanan untuk laki – laki itu, ia kasihan pada laki – laki itu. Gadis kecil itu sama sekali tidak takut jika harus mendekati laki – laki tua aneh itu, ataupun mendekati Pohon Asam yang dikenal berhantu tersebut.
            Gadis kecil itu mendapati lelaki tua itu sedang menangis, gadis itu pun memberanikan diri untuk bertanya.
            “ Kakek, kek ... permisi saya Melati kek, Melati lihat kakek disini tak pernah makan, saya membawakan ini untuk kakek” kata gadis kecil itu dengan terbata – bata sambil menyerahkan dua bungkus nasi pada laki – laki tua tersebut. Laki – laki itu pun menatap gadis kecil itu ia hanya diam kemudian berhenti menangis dan tersenyum kecut pada gadis kecil itu.
            “Tidak nak..kakek tidak lapar, kamu saja yang makan” jawab laki – laki tua itu dengan suara parau.
            “Kakek tidak lapar ?” tanya gadis kecil itu lagi
            “ Tidak nak, kakek tidak akan pernah merasakan lapar lagi, kakek hanya bisa merasakan apa itu kesedihan dan kakek selalu ingin mati, namun Tuhan tak kunjung mengabulkan permohonan kakek”
            “Kenapa kek? Kakek tidak boleh berkata seperti itu” jawab gadis kecil itu.
Kakek itupun malah memandang pohon asam di dekatnya menatapnya lekat hingga ia menceritakan sebuah kisah pada gadis kecil itu.
            Puluhan tahun yang lalu terdapat sebuah desa kecil, hiduplah gadis kecil berumur sekitar 8 tahun yang selalu bersedih karena ia tak mempunyai teman, bahkan orang tak mau melihat wajahnya yang sangat buruk rupa kecuali orangtuanya sendiri. Gadis kecil itu bernama Laras, ia sangat sedih yang dilakukannya hanyalah mengurung diri di rumah atau setidaknya bermain sendiri di sebuah bukit yang ditumbuhi pohon asam.
            Laras pun beranjak dewasa, ia tetap tunbuh menjadi wanita buruk rupa, semula ia sudah terbiasa dengan keadaanya hingga ia bertemu seorang saudagar muda yang tampan dari desa sebelah pindah rumah menetap di desanya. Laras jatuh cinta padanya, namun ia harus sadar diri karena banyak wanita cantik yang juga jatuh cinta pada pemuda yang diketahui bernama Syamsul. Laras pun patah hati, ia selalu menangis di bawah pohon asam seperti biasanya hingga ia pun berkata pada pohon asam
“Wahai pohon asam, pernahkah kau jatuh cinta? Jatuh cinta itu sakit jika yang mengalami adalah seorang wanita buruk rupa sepertiku” setelah berbicara seperti itu Laras pun tertidur di bawah pohon asam ia bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik, wanita cantik itu memberinya sebuah biji asam. Terbangunlah Laras  ketika sebuah biji asam jatuh mengenai kepalanya ia pun mempercayai mimpinya barusan dilahapnya biji asam tersebut.
Laras pun pulang ke rumah, terheran – heran ketika ia berjalan pulang menuju rumah banyak pria di desanya yang memandangnya lekat, menggodanya bahkan ketika ia bertemu Syamsul, dambaan hatinya  Syamsul mengajaknya berkenalan dan mengatakan bahwa Laras adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui.
Sesampainya di rumah Laras bercermin, orang tuanya bahkan dirinya sendiri kaget bukan kepalang melihat wajah Laras yang berubah menjadi wanita yang cantik layaknya dewi yang jatuh dari kahyangan. Laras sangat bahagia, ia pun berlari kembali menuju pohon pohon asam, ia berterima kasih pada pohon asam itu serta berterima kasih yang telah menemani hari – hari Laras walaupun pohon itu tak pernah sekalipun berbicara. Laras pun berjanji akan selalu meluangkan waktunya disana dan membalas kebaikan pohon asam hingga ia mati. Sebelum Laras pergi, Laras sempat bersenandung pada pohon asam “Betapa bahagia daku, baru kali ini kutemukan pohon asam yang manis....”
Laras yang cantik pun menjadi kembang desa, ia memilih Syamsul  untuk menjadi pendamping hidupnya. Menikahlah mereka hingga dikaruniai dua anak perempuan yang sangat cantik seperti Ibunya namun dua anak perempuan Laras sangatlah sombong. Pada awal pernikahan Laras masih sering berkunjung ke pohon asam namun seiring berjalannya waktu, dengan kebahagiaan yang didapatnya  dengan suaminya yang tampan dan baik serta dua anak perempuan yang membuatnya bangga Laras pun semakin jarang  berkunjung ke pohon asam itu, lama – kelamaan ia tak pernah kesana bahkan Laras lama – kelamaan lupa bahwa ia pernah mengenal pohon asam.
Pada suatu hari, Keluarga Syamsul yang kaya itupun berencana membangun rumah besar di bukit pohon asam, ia percaya pada perkataan Almarhum kakeknya bahwa bukit itu amatlah subur. Syamsul pun berencana menebang pohon asam besar tersebut karena pohon asam itu sangat mengganggu baginya untuk mendirikan rumah besar  dan membuka lahan bertanam disana.
Malam sebelum Syamsul menebang pohon itu, Laras bermimpi berdiri di dekat pohon asam, pohon asam itu berubah  menjadi wanita cantik yang tidak asing baginya, ia menangis berkata pada Laras untuk menolongnya, mencegah suaminya menebangnya kemudian Laras terbangun. Laras pun takut dengan mimpinya, ia pun menceritakan mimpi tersebut pada suaminya. Namun Syamsul tak percaya pada mimpi itu, ia malah meyakinkan istrinya bahwa itu hanyalah bunga tidur semata, ia meyakinkan istrinya bahwa dengan menebang pohon itu mereka bisa mendirikan rumah yang besar, lagipula di bukit itu sangatlah subur tanahnya bisa ditumbuhi pohon lainnya yang lebih bermanfaat dan dijual daripada sekedar pohon asam. Ia pun juga berkata sebelum lahan subur itu direbut orang lain. Ia merayu istrinya lagi mereka akan lebih kaya dengan memiliki lahan itu.
Laras pun terlena dengan perkataan suaminya, ia membayangkan akan lebih kaya dari sebelumnya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa mimpinya semalam hanya bunga tidurnya semata. Keesokan harinya Syamsul menebang pohon asam tersebut ditemani istrinya Laras. Tumbanglah pohon asam tersebut hingga ke akarnya, namun tiba – tiba hujang deras datang mengguyur. Laras tak dapat menggerakan kakinya sama sekali, kakinya seperti mengakar di tanah, telapak kakinya berubah menjadi akar, kakinya yang semampai berubah menjadi batang pohon yang kokoh, jari – jemarinya berubah menjadi ranting – ranting yang kuat, rambutnya yang panjang berubah menjadi daun yang lebat dan butir – butir air matanya yang jatuh berubah menjadi biji – biji asam. Laras pun berubah menjadi sebuah pohon, ia sangat menderita setiap hari ia menangis ia merasa bersalah tak menepati janjinya pada pohon asam ia malah menjadi wanita yang tamak bagai biji asam yang lupa pada keasaamannya sendiri.
Suaminya pun menyesal tak mempercayai mimpi istrinya bertingkah tamak ingin memiliki segalanya, ia setiap hari menangis rindu kepada istrinya. Ia turut bersalah atas peristiwa ini kemudian ia memotong tangan kanannya sendiri untuk menebus kesalahannya tapi tetap saja itu tak cukup untuk menghilangkan penyesalannya. Dua anak perempuan Laras yang cantik berubah menjadi buruk rupa, mereka mati bunuh diri tak tahan oleh olok – olokan warga karena dahulu semasa menjadi cantik dua anak perempuan Laras sangatlah angkuh.
“Begitulah cerita mengapa pohon asam itu setiap hari menangis nak, dan kau pasti tahu kenapa kekek menangis”. Melati mendengar cerita itu dengan seksama, ia kasihan pada pohon asam dan kakek tua itu yang ternyata adalah suami Laras. Kakek Syamsul tak lama kemudian menemui ajal yang diidam – idamkannya sedangkan Laras hanya bisa menangis setiap hari sebagai sebatang pohon. Entah sampai kapan berakhir penderitaanya itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah janji.



                                                                                                       Penulis :
                                                                                                Mariah Gipty A
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar