Tokoh :
1. Kwaci : wanita cantik berumur 25 tahun, yang
sangat menyukai hujan
2. Kaktus
: Pria berumur 25 tahun, selengekan namun baik hati
3. Jambu
: teman SMA Kwaci dan Kaktus
4. Talok
: Sahabat Kwaci
5. Melati
: Sahabat Kaktus
Kwaci memandang tetesan air yang jatuh dari langit, rintik –
rintik begitu indah ialah Hujan, makhluk Tuhan paling mempesona. Kwaci yang
selalu cinta pada hujan..kecuali ketika ia masih kanak – kanak ia begitu
membenci hujan, hujan membuatnya takut.. hujan yang identik dengan gelapnya
mendung, namun lama – lama semakin dewasa dirinya disadari hujan terlalu anggun
dan berguna untuk dibenci, saking cintanya pada hujan dia tak peduli apa saja
dampak yang ditimbulkan hujan. Dia terlalu buta jika harus menghina hujan.
Hingga suatu
ketika Kwaci pulang dari rumah sakit menengok neneknya yang sakit, ia berjalan
menuju halte dan berniat menghadiri
resepsi pernikahan sahabatnya Talok. Ditemani awan yang mendung dia berjalan,
begitu menyenangkan pertanda hujan akan turun andai saja setelah ini dia tak
menghadiri acara pernikahan Talok pasti lebih baik Kwaci akan berhujan – hujan
ria tanpa memikirkan bajunya yang elegan itu basah.
Hujanpun
datang dengan derasnya, bus yang ditunggu – tunggu malah tak kunjung datang,
dia mencoba berpikir untuk memesan taxi. Tetapi entahlah ada apa taxi yang
dipesan Kwaci tak kunjung datang juga, Hujan semakin deras, petir dan angin
menemani hujan menunaikan tugasnya, waktu juga ikut berjalan semakin pula Kwaci
menunggu semakin khawatirlah dia, dia tak mau terlambat dalam acara mahapenting
sahabatnya... akhirnya dia berpikir untuk mencari pertolongan dengan mengirim
SMS ke semua nama dalam kontak HPnya untuk menjemputnya. Banyak SMS yang
membalas sms Kwaci namun jawabannya hampir semua ZONK ! ada yang bilang lagi sibuk, ada yang bilang lagi ada urusan,
ada yang bilang lagi sakit, bahkan ada yang bilang kucingnya mati.... Bapaknya,
Ibunya, Kakaknya, bahkan kekasih Kwaci tak dapat membantu Kwaci saat ini.
“Kwaci, kamu dimana ?
aku mau menjemputmu....”
1 SMS pun masuk lagi, yang membuat hati Kwaci
senang namun Kwaci tak menyangka jika pengirim pesan tersebut adalah Kaktus
teman sekelasnya waktu SMA dulu, Kwaci memang tak terlalu dekat dengan Kaktus
bahkan Kwaci lupa pernah mempunyai teman sekelas bernama Kaktus, setelah dia
ingat kembali yang terlintas hanyalah Kaktus seorang Pria eh salah cowok selengek’an
dengan muka yang standar keatas. Dia bingung mengapa nama Kaktus sampai masuk
di dalam kontak HP nya apa mungkin kami saling bertukan nomor HP pada reunian
SMA tahun lalu, ah sudahlah pikir Kwaci yang terpenting baginya sekarang
membalas SMS Kaktus dan memikirkan kalimat yang tepat untuk Kaktus yang akan menolongnya.
15 menit, 20
menit, setengah jam, satu jam telah
dilewati Kwaci untuk menunggu Bus, menunggu Taxi maupun menunggu Kaktus tapi
hasilnya ZONK lagi.. ! Resek ! pikir
Kwaci pada Kaktus pasti Kaktus hanya menjahilinya. Akhirnya Bus pun datang
dengan dongkol Kwaci menaiki Bus dan mengumpat Kaktus seenaknya selama
perjalanan, pasti sudah basi jika ia sangat terlambat datang ke acara
pernikahan Talok.
Sesampainya di
resepsi pernikahan yang sudah di ujung tanduk kerbau :) Kwaci bertemu dengan
banyak temannya, termasuk Jambu teman SMA nya dulu, ia terlihat pucat dan
mengabarkan bahwa Kaktus mengalami kecelakaan baru saja dan meninggal di tempat
kejadian setelah ia nekat berkendara motor di tengah hujan deras yang
menyebabkan motornya tergelincir... Kwaci tak karuan kagetnya, ia teringat akan
Kaktus teman SMA nya dahulu, teringat akan pesannya tadi, teringat akan kata – kata yang
akan diucapkan Kwaci untuk berterimakasih, teringat umpatan Kwaci selama di Bus,
dan semua kosoong, tangan Kwaci seketika dingin dan Braaaaaak Kwaci tak
sadarkan diri.
Semenjak
kejadian tersebut terkuak pulalah rahasia besar bahwa Kaktus selama ini
menyukai Kwaci sejak SMA , Kwacilah cinta pertama Kaktus.. Sebenarnya Kaktus
tak mau Kwaci mengetahui hal tersebut namun sahabat Kaktus yaitu Melati harus
membeberkan rahasia Kaktus selama ini. Kwaci
sangat menyesal bukan karena ia membuat Kaktus mengalami kecelakaan saat mau
menjemput Kwaci melainkan ia menyesal telah mengumpat Kaktus seenaknya dan tak
pernah menganggap Kaktus ada.
Semenjak
kejadian tersebut pula, Kwaci tak pernah bisa jika harus mengutuk Hujan sebagai
penyebab kematian Kaktus, baginya Tuhan memang sudah berencana lewat Hujan
untuk menunjukan siapa yang benar – benar mencintainya. Baginya tetap Hujan
Makhluk Tuhan Paling Mempesona.
-
tamat -
#MGA
-
Hanya
cerita sederhana mengenai cinta
-
Ceritanya
lebih fokus ke Hujan sebenarnya
-
Imajinasinya
dapat di dalam Bus ketika mendung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar